Novan Dorong Skrining HIV Diperluas, Akses Pengobatan dan Kerahasiaan Pasien Jadi Perhatian

Foto: Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Muhammad Novan Syahronny Pasie (08/10/2026)

Borneokita.com,SAMARINDA – Penguatan skrining dan akses pengobatan menjadi bagian penting dalam upaya mengendalikan penyebaran HIV di Kota Samarinda. Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Muhammad Novan Syahronny Pasie, mendorong agar deteksi dini dibarengi edukasi kesehatan yang tepat serta perlindungan terhadap kerahasiaan pasien.

Perhatian tersebut muncul menyusul informasi temuan kasus HIV di Samarinda sepanjang 2026 yang disebut telah mendekati 400 kasus. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa penanganan HIV membutuhkan langkah berkelanjutan, mulai dari pencegahan hingga pendampingan bagi orang yang telah terdiagnosis.

Novan mengatakan, penyebaran HIV perlu menjadi perhatian bersama karena persoalan serupa juga ditemukan di sejumlah kota besar di Kalimantan Timur. Menurutnya, upaya penanggulangan tidak cukup hanya mengandalkan pendataan, tetapi juga harus memastikan masyarakat memperoleh informasi dan layanan kesehatan yang memadai.

“Pemeriksaan melalui skrining di fasilitas kesehatan perlu terus diperkuat, termasuk pemeriksaan terhadap ibu hamil di puskesmas. Deteksi dini penting agar kasus dapat diketahui lebih awal dan pasien memperoleh penanganan yang sesuai,” ujarnya di Samarinda, Kamis (08/10/2026).

Berdasarkan informasi yang disampaikannya, lebih dari 200 orang disebut telah terdeteksi dan melanjutkan pengobatan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kesinambungan layanan kesehatan agar orang dengan HIV dapat menjalani terapi secara teratur dan memperoleh pendampingan yang dibutuhkan.

Selain pemeriksaan, Novan menilai edukasi masyarakat perlu menjadi perhatian dalam strategi pencegahan. Informasi mengenai cara penularan, faktor risiko, dan langkah perlindungan perlu disampaikan secara tepat agar masyarakat tidak keliru memahami HIV maupun mengambil keputusan berdasarkan stigma.

HIV dapat menular melalui paparan tertentu, antara lain hubungan seksual tanpa perlindungan, penggunaan jarum suntik secara bergantian, serta penularan dari ibu ke anak. Sebaliknya, interaksi sehari-hari seperti bersalaman, berpelukan, maupun berbagi makanan tidak menularkan HIV.

Pemahaman tersebut dinilai penting untuk membangun kesadaran masyarakat sekaligus mencegah diskriminasi terhadap orang dengan HIV. Edukasi yang tepat diharapkan dapat mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan ketika memiliki faktor risiko, tanpa dibayangi ketakutan akibat informasi yang keliru.

Novan juga menekankan pentingnya keberlanjutan pengobatan bagi pasien yang telah terdiagnosis. Terapi antiretroviral (ARV) yang dijalani secara rutin sesuai anjuran tenaga kesehatan dapat menekan jumlah virus dalam tubuh dan membantu menjaga kondisi kesehatan pasien.

Di sisi lain, kerahasiaan identitas dan kondisi kesehatan pasien perlu dijaga dalam setiap tahapan pelayanan. Menurutnya, rasa aman saat menjalani pemeriksaan maupun pengobatan merupakan bagian penting agar masyarakat tidak enggan mengakses layanan kesehatan.

Penanganan HIV, lanjutnya, memerlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari fasilitas kesehatan, pemerintah, hingga masyarakat. Koordinasi yang berkelanjutan diperlukan agar upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan dapat berjalan seiring.

Dengan temuan kasus yang disebut mendekati 400 sepanjang 2026, penguatan skrining, perluasan edukasi, dan kesinambungan pengobatan menjadi aspek yang perlu mendapat perhatian. Langkah tersebut diharapkan membantu masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang tepat sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih terbuka dan bebas stigma terhadap orang dengan HIV. (ADV/DIN/NI/DPRD Kota Samarinda)

Penulis: AhmadinEditor: Suharni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *