Borneokita.com – Komisi XII DPR RI, Syafruddin, menilai kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM nonsubsidi dapat menjadi momentum pemerintah untuk mendorong konsumen masyarakat menengah kelas atas beralih ke kendaraan listrik (EV) dan mulai menggunakan transportasi umum saat beraktivitas.
“Pertama, masyarakat menengah ke atas itu sedikit didorong agar mereka menggunakan kendaraan listrik. Kedua, ya memang keadaan ini memaksa juga atau sedikit mendorong agar masyarakat menengah ke atas itu lebih maksimal menggunakan transportasi umum,” jelas dia kepada awak media di Jakarta, Senin, 20 April 2026.
Lebih lanjut, Syafruddin meminta, semua pihak untuk memahami keputusan pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi. Alasan terkuat pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi ialah lantaran dampak perang di Timur Tengah
Tak hanya itu kata dia, kenaikan harga BBM ini nonsubsidi harus menjadi pelajaran dan pengingat untuk semua pihak pentingnya melakukan konversi dari kendaraan dengan bahan bakar fosil ke listrik.
“Sekaligus pengingat buat kita betapa pentingnya penggunaan mobil listrik dan penggunaan transportasi umum. Nah inilah yang bisa kita petik manfaat atau sisi positif dari melompatnya harga BBM non-subsidi yang luar biasa ini,” beber dia.
Selain lain itu, ia menekankan, pentingnya komitmen transisi energi dari fosil atau BBM ke baru terbarukan. Menurutnya, percepatan transisi energi bisa membuat atau melepas akan ketergantungan kepada BBM.
“Nah, artinya percepatan menggunakan mobil listrik ini adalah salah satu upaya kita mengurangi ketergantungan kita di BBM,” jelas Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Berharap Pemerintah Beri Penjelasan Detail
Meski tidak mempermasalahkan dan meminta semua pihak memahami, Syafruddin berharap, pemerintah tetap dapat menjelaskan secara detail alasan kenaikan harga harga BBM nonsubsidi yang melonjak begitu tinggi.
Kenaikan harga signifikan terjadi pada pertamax turbo yang naik dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter, dexlite dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter, serta pertamina dex dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter.
“Ini kan lompatan kenaikannya terlalu drastis, sehingga banyak membuat orang bengong. Kenapa tiba-tiba naiknya segini? Nah harusnya pemerintah ini memberikan penjelasan, menjelaskan kenapa kenaikan harga BBM non-subsidi ini lompatannya tinggi sekali,” tutur dia.
Ia menuturkan, penjelasan dari pemerintah diperlukan agar pengguna BBM nonsubsidi bisa memahami keputusan kenaikan harga secara komprehensif .
“Supaya nanti masyarakat yang pengguna BBM non subsidi ini kan bisa memahami meskipun kita semua sudah tahu bahwa hari ini memang pemerintah sedang dihadapkan pada hal-hal yang sulit karena upaya pemerintah,” ungkap dia.
“Meskipun memang kenaikan harga BBM non subsidi ini adalah pilihan yang pahit juga buat pemerintah karena tidak ada cara lain kan gitu,” tambah dia.
Maksimalkan Hasil dari Rusia dan Dukung Terus Pertamina
Lebih jauh, Syafruddin mengingatkan, agar pemerintah dapat bersungguh-sungguh memberikan support kepada Pertamina untuk mencari sumber-sumber minyak baru guna menghadapi ketidakpastian seperti saat ini.
“Artinya pemerintah harus serius dan sungguh-sungguh untuk mensupport Pertamina. Pertamina untuk berusaha untuk mencari sumber-sumber minyak. Kalau misalnya kita baru secara serius untuk mencari sumber-sumber minyak, ya pasti kan dapat,” ungkap dia.
Setali tiga uang, ia meminta, pemerintah juga dapat memperjelas skema pembelian BBM dari Rusia. Ia mempertanyakan apakah nantinya skema meminta Rusia berinvestasi dengan membangun kilang minyak di Indonesia.
“Apakah kita akan membeli BBM
di Rusia atau meminta Rusia untuk melakukan investasi di Indonesia dengan membangun kilang,” pungkasnya.Komisi XII DPR RI, Syafruddin, menilai kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM nonsubsidi dapat menjadi momentum pemerintah untuk mendorong konsumen masyarakat menengah kelas atas beralih ke kendaraan listrik (EV) dan mulai menggunakan transportasi umum saat beraktivitas.
“Pertama, masyarakat menengah ke atas itu sedikit didorong agar mereka menggunakan kendaraan listrik. Kedua, ya memang keadaan ini memaksa juga atau sedikit mendorong agar masyarakat menengah ke atas itu lebih maksimal menggunakan transportasi umum,” jelas dia kepada awak media di Jakarta, Senin, 20 April 2026.
Lebih lanjut, Syafruddin meminta, semua pihak untuk memahami keputusan pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi. Alasan terkuat pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi ialah lantaran dampak perang di Timur Tengah
Tak hanya itu kata dia, kenaikan harga BBM ini nonsubsidi harus menjadi pelajaran dan pengingat untuk semua pihak pentingnya melakukan konversi dari kendaraan dengan bahan bakar fosil ke listrik.
“Sekaligus pengingat buat kita betapa pentingnya penggunaan mobil listrik dan penggunaan transportasi umum. Nah inilah yang bisa kita petik manfaat atau sisi positif dari melompatnya harga BBM non-subsidi yang luar biasa ini,” beber dia.
Selain lain itu, ia menekankan, pentingnya komitmen transisi energi dari fosil atau BBM ke baru terbarukan. Menurutnya, percepatan transisi energi bisa membuat atau melepas akan ketergantungan kepada BBM.
“Nah, artinya percepatan menggunakan mobil listrik ini adalah salah satu upaya kita mengurangi ketergantungan kita di BBM,” jelas Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Berharap Pemerintah Beri Penjelasan Detail
Meski tidak mempermasalahkan dan meminta semua pihak memahami, Syafruddin berharap, pemerintah tetap dapat menjelaskan secara detail alasan kenaikan harga harga BBM nonsubsidi yang melonjak begitu tinggi.
Kenaikan harga signifikan terjadi pada pertamax turbo yang naik dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter, dexlite dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter, serta pertamina dex dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter.
“Ini kan lompatan kenaikannya terlalu drastis, sehingga banyak membuat orang bengong. Kenapa tiba-tiba naiknya segini? Nah harusnya pemerintah ini memberikan penjelasan, menjelaskan kenapa kenaikan harga BBM non-subsidi ini lompatannya tinggi sekali,” tutur dia.
Ia menuturkan, penjelasan dari pemerintah diperlukan agar pengguna BBM nonsubsidi bisa memahami keputusan kenaikan harga secara komprehensif .
“Supaya nanti masyarakat yang pengguna BBM non subsidi ini kan bisa memahami meskipun kita semua sudah tahu bahwa hari ini memang pemerintah sedang dihadapkan pada hal-hal yang sulit karena upaya pemerintah,” ungkap dia.
“Meskipun memang kenaikan harga BBM non subsidi ini adalah pilihan yang pahit juga buat pemerintah karena tidak ada cara lain kan gitu,” tambah dia.
Maksimalkan Hasil dari Rusia dan Dukung Terus Pertamina
Lebih jauh, Syafruddin mengingatkan, agar pemerintah dapat bersungguh-sungguh memberikan support kepada Pertamina untuk mencari sumber-sumber minyak baru guna menghadapi ketidakpastian seperti saat ini.
“Artinya pemerintah harus serius dan sungguh-sungguh untuk mensupport Pertamina. Pertamina untuk berusaha untuk mencari sumber-sumber minyak. Kalau misalnya kita baru secara serius untuk mencari sumber-sumber minyak, ya pasti kan dapat,” ungkap dia.
Setali tiga uang, ia meminta, pemerintah juga dapat memperjelas skema pembelian BBM dari Rusia. Ia mempertanyakan apakah nantinya skema meminta Rusia berinvestasi dengan membangun kilang minyak di Indonesia.
“Apakah kita akan membeli BBM
di Rusia atau meminta Rusia untuk melakukan investasi di Indonesia dengan membangun kilang,” pungkasnya.













