Borneokita.com,KALTIM – Oleh Naena Aora Fadillah (Anggota Bidang Kepedulian Sosial DEMA PTKIN Kalimantan)
di balik peringatan hari buruh setiap tahunnya, muncul satu pertanyaan penting “apakah para pekerja saat ini benar-benar telah merasakan keadilan dan kesejahteraan?”
sejarah menunjukkan bahwa hari buruh lahir dari perjuangan panjang melawan kondisi kerja yang tidak manusiawi, dengan tuntutan akan jam kerja yang layak dan kehidupan yang seimbang. artinya, sejak awal perjuangan buruh tidak hanya berbicara soal ekonomi, tetapi juga tentang kemanusiaan.
jika dilihat dari kondisi saat ini bentuk dari permasalahan memang telah berubah, namun substansinya tetap sama. banyak pekerja masih menghadapi tekanan kerja yang tinggi, ketidakpastian ekonomi, serta minimnya perlindungan terhadap kesejahteraan mereka.
ini jadi pertanda bahwa pembangunan yang berjalan belum sepenuhnya berpihak kepada para pekerja.
melihat kondisi ini, isu terkait ketenagakerjaan perlu dipandang lebih luas. tekanan kerja yang berlebihan dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental, seperti meningkatnya stres dan burnout. selain itu dalam beberapa sektor, pekerja juga menjadi pihak yang paling terdampak dari kerusakan lingkungan dan kondisi kerja yang tidak aman.
kondisi ini menunjukkan bahwa masih diperlukan perbaikan dalam sistem dan kebijakan yang ada. peran para pemangku kebijakan dan pihak yang memiliki kewenangan menjadi penting untuk memastikan hadirnya kebijakan yang lebih berpihak pada pekerja, baik dalam hal perlindungan, kesejahteraan, maupun jaminan kesehatan dan keselamatan kerja. upaya ini bukan semata-mata soal regulasi, tetapi juga tentang keberpihakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
dengan demikian, hari buruh bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga menjadi refleksi atas kondisi hari ini. selama keadilan belum dirasakan secara merata, maka perjuangan itu masih belum selesai.













