Borneokita.com, Samarinda – Anggota Komisi XII DPR RI, Syafruddin, meminta agar alokasi kuota bahan bakar minyak (BBM) untuk Kalimantan Timur diprioritaskan setelah proyek Refinery Development Master Plan atau RDMP Balikpapan rampung.
Menurutnya, sebagai daerah lokasi kilang, Kalimantan Timur berhak mendapatkan pemenuhan kebutuhan energi lokal terlebih dahulu sebelum distribusi diperluas ke wilayah lain.
Syafruddin menyambut positif tuntasnya proyek RDMP Balikpapan yang dinilai strategis untuk mengatasi defisit produksi BBM nasional sekaligus menjawab keluhan sektor energi di Kalimantan.
Ia menjelaskan, RDMP Balikpapan dirancang untuk meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah menjadi BBM, di tengah kondisi kebutuhan nasional yang mencapai 1,6 juta barel per hari sementara produksi dalam negeri masih sekitar 600.000 barel per hari.
“Tuntasnya proyek RDMP Balikpapan ini, angin segar untuk seluruh rakyat Indonesia, khususnya Kalimantan Timur,” sebutnya, Sabtu (10/1/2026) kepada Tribun Kaltim.
Legislator dari daerah pemilihan Kalimantan Timur itu menambahkan, peningkatan kapasitas produksi otomatis akan menekan impor BBM.
Namun, ia menegaskan pentingnya pengawasan agar manfaat RDMPBalikpapan benar-benar dirasakan daerah penghasil.
“Impor juga berkurang kan kata Kementerian ESDM, ya tapi kita tetap melihat kebutuhan energi secara nasional, mengandalkan produksi dalam negeri setelah beroperasinya RDMP Balikpapan, tetapi mesti kita lakukan pengawasan,” sebutnya.
Meski berdampak nasional, Syafruddin memberikan catatan kritis soal distribusi hasil produksi. Ia menilai Kalimantan Timur harus menjadi prioritas alokasi kuota BBM.
Mulai dari Pertamax, Pertalite, LPG, terutama Solar dan Biodiesel, mengingat selama ini keluhan kekurangan kuota BBM masih kerap terjadi.
“Karena RDMP Balikpapan ini posisinya di Kalimantan Timur, maka alokasi kuota BBM itu harus memprioritaskan kebutuhan lokal Kaltim, baik itu Pertamax, Pertalite, LPG, terutama Solar serta Biodiesel dan lainnya ya,” sambung politikus PKB ini.
Ia menegaskan, pemenuhan kebutuhan lokal harus diselesaikan lebih dulu sebelum hasil produksi didistribusikan ke daerah lain untuk memenuhi kebutuhan nasional.
“Saya sebagai wakil rakyat Kalimantan Timur meminta agar pemenuhan kuota lokal dulu untuk Kalimantan Timurm, baru kemudian kita bawa keluar untuk memenuhi kebutuhan skala nasional,” tandasnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia meninjau proyek RDMP Kilang Pertamina Balikpapan pada Kamis (8/1/2026) untuk memastikan progres berjalan sesuai rencana.
Bahlil menegaskan RDMP Balikpapan berperan penting memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor BBM.
“Proyek RDMP Balikpapan ini sangat penting untuk ketahanan energi nasional,” ujar Bahlil.
RDMP Kilang Pertamina Balikpapan merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang bertujuan meningkatkan kapasitas dan kompleksitas kilang agar mampu menghasilkan BBM berkualitas tinggi sesuai standar Euro V.
Pemerintah juga menargetkan, beroperasinya RDMP Balikpapan akan memperkuat implementasi kebijakan biodiesel dan berpotensi membawa Indonesia menuju surplus produksi solar. (*)












