Borneokita.com, Samarinda – Menyoroti ketimpangan nyata dalam akses pendidikan di Kalimantan Timur, khususnya pada keterbatasan sarana prasarana dan sulitnya akses menuju sekolah. Fokus pada fakta lapangan dan kondisi siswa sebagai korban utama.
Pendidikan merupakan fondasi lahirnya generasi hebat. Namun, kehebatan itu tidak mungkin terwujud tanpa terpenuhinya kebutuhan dasar siswa. Sarana dan prasarana yang layak bukan sekadar pelengkap, melainkan syarat utama agar proses belajar berlangsung nyaman, tenang, dan berkualitas.
Sayangnya, realitas di Kalimantan Timur masih jauh dari harapan. Di tingkat sekolah menengah, banyak siswa masih menghadapi keterbatasan fasilitas, minimnya sarana pendukung, hingga akses menuju sekolah yang sulit dijangkau. Ini bukan sekadar kekurangan,ini adalah ketimpangan yang nyata.
Di beberapa wilayah seperti Kutai Timur, jarak rumah ke sekolah yang jauh memaksa siswa menempuh perjalanan panjang dengan risiko tinggi, bahkan menggunakan kendaraan pribadi seadanya. Sementara di daerah lain, ketiadaan transportasi sekolah menjadi persoalan serius yang terus diabaikan.Ungkap Fiku, Sapaan Akrabnya.
Akses pendidikan yang seharusnya menjadi hak, justru menjadi beban bagi siswa. Contoh sekolah-sekolah di Kabupaten/Kota yang sarana dan prasarana nya masih terbatas dan tidak layak seperti, Pembangunan SMAN 4 di Kab. Kutai Kartanegara, SMAN 2 Sangatta Selatan di Kab.Kutai Timur, SMAN 16 dan 17 di Kab. Berau, SMAN 14 di Kota Samarinda, serta SMAN 10 dan SMKN 8 di Kota Balikpapan. Tambahnya.













